Berkonser! Musik, Teknologi, dan Kapitalisasi Pengalaman

EKSPLORASI DUNIA MUSIK BARU-baru ini, saya menghadiri konser yang, dalam pandangan saya, lebih tepat disebut sebagai demonstrasi kultural teknologi ketimbang sekadar pertunjukan musik. Acara ini berlangsung serentak di tiga kota; Jakarta, Surabaya, dan Bali, dengan susunan artis berbeda, tapi dipersatukan oleh transmisi visual real-time melalui videotron raksasa serta duet lintas kota yang disajikan bak panggilan video di tengah konser.

Konser mewah ini sejatinya diselenggarakan oleh salah satu provider jaringan untuk mempromosikan layanan 5G-nya, menjelma menjadi apa yang bisa saya sebut sebagai infrastructure spectacle, yakni teater infrastruktur, di mana teknologi konektivitas tidak lagi bersembunyi di balik layar, melainkan tampil sebagai aktor utama di atas panggung budaya populer. Dalam tradisi industri musik, konser dipahami sebagai ruang perjumpaan langsung antara musisi dan publik, peristiwa yang mengandalkan kehadiran tubuh, resonansi suara, spontanitas panggung, serta energi kolektif yang tidak sepenuhnya dapat direplikasi oleh medium rekaman. Ia bagaikan arena afektif di mana musik beroperasi sebagai pengalaman bersama.

Jika konser umumnya bertumpu pada intensitas kehadiran fisik dalam satu ruang, maka konser multilokasi terintegrasi yang saya datangi kemarin, menggeser paradigma tersebut menuju apa yang dapat disebut sebagai ekologi pertunjukan terdistribusi (distributed performance ecology).

Ruang tidak lagi dipahami secara geografis semata, melainkan sebagai jaringan titik-titik produksi makna yang diikat oleh infrastruktur media. Henry Jenkins (2006) dalam Convergence Culture menjelaskan bahwa konvergensi tidak melulu soal penyatuan teknologi, melainkan dapat dilihat sebagai pertemuan antara alur media, industri, dan perilaku audiens.

Konser multilokasi ini dibaca sebagai manifestasi konkret dari logika tersebut: pertunjukan langsung (live performance), siaran video real-time, interaksi antarartis, serta konsumsi penonton di berbagai kota dilebur menjadi satu narasi pertunjukan kolektif. Pun, sama halnya dalam kerangka dramaturgi, panggung-panggung yang terpisah ini disatukan dalam satu narasi performatif: urutan lagu, momen dialog lintas kota, hingga puncak duet disusun untuk menegaskan bahwa publik sedang menyaksikan sesuatu yang “melampaui” konser konvensional. Musik tetap menjadi inti, tetapi kini berada dalam ekologi teknologis yang mengatur cara ia dipersepsi.

Ekonomi Pengalaman dan Kapitalisasi Inovasi Jika dilihat dari kacamata industri kreatif, konser multilokasi ini juga mencerminkan logika experience economy (Pine & Gilmore, 1999). Industri hiburan tidak lagi hanya menjual lagu atau tiket, tapi mendagangkan pengalaman unik dan tak tergantikan. Keistimewaan menonton konser yang “terhubung nasional” menjadi nilai tambah simbolik, bahkan prestise bagi penonton—tak terkecuali bagi saya.

Dalam pasar yang semakin kompetitif, inovasi teknologi menjadi diferensiasi utama. Konser seperti ini menegaskan bagaimana industri musik kontemporer bergerak ke arah spektakel terkurasi: pengalaman audio visual berskala besar, narasi kebersamaan lintas kota, serta klaim sebagai konser “pertama”, “terbesar” atau “tercepat” dalam format tertentu. Semua itu memiliki implikasi branding yang kuat bagi promotor, artis, dan sponsor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *