Dosen UNY Buktikan Anak Tunarungu Bisa Main Musik, Buka Ruang Ekspresikan Diri

Dosen Pendidikan Seni Musik Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Drijastuti Jogjaningrum menemukan fakta bahwa anak tunarungu tetap bisa bermusik dengan pendekatan pembelajaran berbasis multisensori.

Hal ini ia ketahui setelah melakukan riset di SLB B Yakut Purwokerto, Jawa Tengah dengan melibatkan 31 siswa tunarungu berusia 8 hingga 13 tahun.

Hasilnya menunjukkan, musikalitas tidak hanya bergantung pada telinga, tetapi juga dapat diakses melalui indera lain seperti penglihatan, sentuhan, dan gerak tubuh.

“Musik bukan hanya soal mendengar suara. Musik adalah pengalaman tubuh. Anak tunarungu bisa memahami ritme dan irama melalui getaran, visual, dan gerakan,” kata Drijastuti dikutip dari keterangan tertulis.

Dirjastuti menjelaskan, dalam pembelajaran, siswa tidak diajak mendengarkan musik seperti pada umumnya, melainkan merasakan dan melihat musik.

Getaran alat musik angklung juga dimanfaatkan sebagai media utama agar siswa dapat merasakan denyut dan tempo. Sementara gerakan tangan, kode warna, simbol visual, dan bahasa isyarat digunakan untuk membantu siswa memahami struktur musik.

Pendekatan ini juga menggabungkan tiga jalur sensorik sekaligus yakni taktil, siswa merasakan getaran musik secara langsung. Lalu visual, melalui gerakan konduktor, simbol, dan warna.

Sedangkan yang terakhir adalah kinestetik, melalui aktivitas fisik seperti bertepuk tangan, melangkah mengikuti irama, dan memainkan alat musik.

Hasilnya cukup signifikan karena Lebih dari 86 persen siswa mampu mengikuti pembelajaran musik selama 30 hingga 45 menit dengan tingkat partisipasi yang tinggi.

“Para siswa juga mampu meniru pola ritme sederhana serta merespons perubahan irama melalui gerakan tubuh,”

Drijastuti menambahkan, selain meningkatkan kemampuan bermusik, pembelajaran berbasis multisensorik ini juga berdampak positif pada perkembangan sosial dan emosional siswa.

Anak-anak menjadi lebih percaya diri, berani mengekspresikan diri, serta mampu bekerja sama dalam aktivitas kelompok.

Drijastuti juga menilai, praktik pendidikan musik yang terlalu berfokus pada aspek auditif justru membuat anak tunarungu terpinggirkan.

Padahal, secara biologis, otak anak tunarungu memiliki kemampuan beradaptasi dengan memaksimalkan indera lain.

“Selama ini ada anggapan bahwa anak tunarungu tidak musikal. Itu keliru. Mereka memiliki potensi musikal yang sama, hanya jalur belajarnya berbeda,”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *