
Setelah terakhir melepas single “Korban” (2022), band rock asal Jakarta, Rumah Tua akhirnya resmi meluncurkan album perdana bertajuk Merayakan Hari Akhir (15/01). Album ini berisi total delapan lagu yang disusun secara berurutan dan membentuk satu narasi utuh.
Band beranggotakan Triputra Aditias (vokalis), Dwiky (drumer), Aranza Naufan (gitaris), dan Rendy Fauzhan (pemain bas) ini menyuguhkan perjalanan emosional di album mereka, yang dimulai dari fase kelahiran, keresahan hidup sehari-hari, hingga pernyataan tegas mengenai makna perlawanan dalam konteks sosial dan politik.
Merayakan Hari Akhir dirancang sebagai album konseptual yang merefleksikan pengalaman personal para personel Rumah Tua. Setiap lagu saling terhubung dalam membangun cerita yang padat dan terstruktur untuk menggambarkan bagaimana pengalaman hidup diolah menjadi ekspresi musikal.
“Album ini kami susun seperti perjalanan yang kami alami sendiri. Dimulai dari kelahiran, kegelisahan sehari-hari, sampai akhirnya tiba di titik di mana kami merasa harus mengambil sikap dan melawan,” ujar Dwiky dalam siaran pers.
Album dibuka dengan lagu “Kata Pengantar”, yang berfungsi sebagai pintu masuk menuju keseluruhan cerita. Lagu ini menghadirkan gambaran awal tentang proses kelahiran yang jauh dari kata steril, dipenuhi oleh keributan batin dan pencarian arah hidup.
Perjalanan berlanjut ke trek “Perjamuan”, yang memperluas tema album dengan menghadirkan konsep rumah pertemuan. Lagu ini memaknai sebuah ruang simbolis tempat siapa pun dapat datang, duduk, dan ikut mengambil bagian dalam perjalanan.
Masuk ke bagian tengah album, mulai menguat ketegangannya melalui “Korban”, “Lara Membara”, dan “Satu Api”. Ketiga lagu ini menyoroti konflik antara kerentanan dan ketegasan, antara menerima luka dan memilih untuk tetap bergerak maju.
Kemudian nuansa reflektif berlanjut di dua trek yang berikutnya, “Setapak Kematian” dan “Tanya Tanda?”. Kedua lagu mengajak pendengar untuk berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai arah hidup dan batas keberanian.
Sebagai penutup, lagu “krsst” yang klimaks menegaskan pesan utama album. Lagu ini menyampaikan gagasan bahwa kekalahan bukanlah akhir, melainkan sebuah permulaan baru yang dapat dimulai oleh siapa saja.
Perlawanan juga tidak berhenti pada satu suara, melainkan dapat diteruskan oleh siapa pun yang mendengarkan dan meresapi pesan yang disampaikan sang album.
Leave a Reply