
PERAYAAN Hari Musik, tahun ini cukup spesial, ditandai dengan popularitas lagu-lagu Indonesia Timur melesat tajam. Merasuk ke ruang publik hingga tembok Istana Negara. Beat enerjik, irama menghentak, dan lirik berbahasa daerah yang khas menciptakan atmosfer segar membumi.
Sebelumnya, berdasarkan data TikTok Global Top 20 Songs yang dirilis pada 2025, lagu “Stecu Stecu” oleh Faris Adam dari Ternate, Maluku Utara, mencetak sejarah sebagai lagu Indonesia pertama yang masuk dalam daftar global platform media sosial. Bertengger di peringkat kedelapan dunia. Hal ini menarasikan bahwa musik dari kawasan timur Indonesia memiliki daya tarik ciamik yang mampu bersaing di panggung global.
Lampau Jika menengok ke era 1990-an, sebenarnya ada lagu dari Indonesia Timur yang lebih dulu digemari masyarakat. Lagu “Poco-Poco” ciptaan Arie Sapulette yang dipopulerkan oleh Yopie Latul pada tahun 1995, adalah bukti awal musik Timur mampu dinikmati secara luas.
Dilengkapi dengan tarian sederhana yang kemudian dijadikan gerakan senam massal di berbagai instansi pemerintah, lingkungan militer, hingga sekolah-sekolah. Lagu ini merasuk ke seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Lagu “Sajojo” dari Papua juga mengiringi gelombang popularitas yang sama. Karakteristik rancak dengan atmosfer ceria inilah yang kini kembali populer melalui lagu-lagu kontemporer seperti Stecu Stecu, Tabola Bale, dan Orang Baru Lebe Gacor. Harus diakui, para musisi saat ini semakin kreatif dalam menyerap pengaruh musikal ritmis dan dinamis, kemudian memadukannya dengan lirik-lirik ceria.
Sebagaimana lagu pop Jawa (campursari) yang lebih dahulu populer, mereka melakukan persilangan kreatif dengan tetap mendasarkan pada karakter lokal. Peristiwa ini memungkinkan musik Timur mempertahankan akar dan beradaptasi dengan selera kekinian. Praktik ini, dalam perspektif etnomusikologi dikenal sebagai hibriditas.
Musisi tidak melulu mengadopsi tren, tetapi secara aktif memadukannya dengan identitas dan nilai lokal, baik melalui pemilihan instrumen, aransemen musik, hingga penggunaan lirik berbahasa daerah. Media baru seperti platform berbagi video pendek, katakanlah TikTok, mempercepat popularitas ini secara signifikan. Banyak konten video menggunakan lagu-lagu Timur karena komposisi musikalnya menarik, bahkan kreator dari luar negeri turut mengadopsinya.
Jangkauan media baru yang demikian luas, merobohkan dominasi Jakarta sebagai episentrum musik nasional, sekaligus mempermudah musik Timur untuk dikenal secara global.
Leave a Reply